Selamat datang....

Semoga setelah membaca perasaan anda menjadi PLONG!
Tampilkan postingan dengan label Plong dan Sekitarnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Plong dan Sekitarnya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Sudah Klop!

Kehidupan yang menjadi harapan semua makhluk adalah kedinamisan. Allah Ta'ala menciptakan manusia agar menjadi pelopor kedinamisan itu di bumiNya. Ketika alam telah berimbang, sesuai dengan yang seharusnya maka kedamaian segera terwujud. Sebaliknya, ketika rakyat dizhalimi penguasa yang seharusnya dilindungi dan dilayani. Rakyat mencaci maki pemimpinnya, seharusnya mendoakan dan mengingatkannya. Maka alam pun ikut-ikutan murka, bumi bergoncang protes, langit memerah meredam amarah, air bergulung-gulung bergelombang, angin menerjang tak terkendalikan.

Banyak sekali ketidaksinkronan yang mengakibatkan malapetaka bagi negeri ini. Ketika tahun 1956 antara Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta terjadi perbedaan pendapat (suatu hal lumrah dalam alam demokrasi), dan berujung pada mundurnya Moh. Hatta dari jabatannya. Dwitunggal pun pecah, bahkan Aidit dalam komentarnya mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya Dwitunggal. Demikian pula ketidaksinkronan antara ucapan rezim berkuasa dengan realitas empiris di masyarakat tentang kemajuan pembangunan. Yang terjadi hanyalah pembodohan, pencitraan dan kebohongan publik.

Perbedaan adalah sesuatu yang lazim, untuk memperkaya khasanah berpikir. Namun pasti ada follow up berupa kesepakatan biar klop! Laki-laki dan perempuan pasti berbeda, dengan akad nikah maka keduanya disatukan dalam sebuah komitmen membentuk keluarga sakinah, mawadah dan rahmah. Seperti orang Rembang mengatakan,"Tumbu entuk (oleh) tutup." Tumbu atau besek adalah tempat nasi kendurian dan tidak berfungsi baik sebagai tempat menyimpan tanpa tutup. Jadi ketika tumbu mendapatkan jodohnya berupa tutup, maka kehidupan menjadi dinamis kembali.

Suatu contoh lain adalah ketika seseorang telah menjadi pejabat negara, agar dia dalam menjalankan tugas dapat sesuai dengan harapan masyarakat maka harus bersumpah terlebih dahulu. Gimana sih bro, bukankah sebelum mereka dilantik biasanya juga sudah bersumpah,"Aku bersumpah Demi Allah!" Benar, apa yang sampeyan katakan, itu sumpah sebelum mereka membacakan point-point lainnya. Namun saya usul agar diakhir sumpahnya ditambah dengan ungkapan,"Celaka bagi orang-orang yang saya cintai jika saya melanggar sumpah ini!" Keren nggak coy.....

Mereka agar berpikir ulang ketika akan melanggar amanah rakyat. Ketika melangkah untuk perbaikan bangsa dan menjadi pelayan rakyat yang kreatif dan cekatan, selalu mengingat orang-orang yang dicintainya. Sumpah itu bukan mengekang aktifitasnya tetapi sebagai bagian kontrol agar lebih hidup dan dinamis itu tadi. Bisa nggak ya ucapan sumpah yang saya usulkan sebagai kontrol tadi diterima penerima kebijakan pembuat konstitusi?

Sidang pembaca, sampeyan sama saya tentunya dua pribadi yang berbeda. Saya mencoba menulis ibaratnya tumbunya, dan sangat berharap ketemu tutupnya yaitu rasa klop di hati sampeyan terhadap apa yang saya tulis ini. Namun tidak perlu dipaksakan karena akan menjadi tidak baik. Ketika sampeyan memang beda pendapat dengan saya, nggak masalah. Karena bukanlah sesuatu yang prinsip, enaknya dibikin enjoy saja dengan kesepakatan untuk tidak sepakat. Kan enak jadinya, tumbu oleh tutup itu tadi alias sudah ketemu solusinya. Inilah yang dikatakan kedinamisan hidup, karena saling pengertian dan menghargai perbedaan menuju kasih sayang.

Sikap saling membutuhkan atau simbiosis mutualisme ketika sampeyan memulai persahabatan itu penting lho. Coba, kalau temen sampeyan itu hanya memanfaatkan sampeyan untuk kepentingannya sendiri, maunya hanya berteman di kala senang saja. Pasti anda jadi nggak sreg, nggak klop banget gituuuu lho! Mereka hanya jadi parasit. Yaitu hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Seharusnya persahabatan menjadi media interaksi antara keduanya agar nyaman hidup berdampingan. Bagaikan ikan Remora dan Hiu, Jalak dan Kerbau, serta Lebah dan Bunga Sepatu.

Konsep keseimbangan Yin dan Yang juga bisa dikatakan sudah klop. Yin Yang janganlah dipersepsikan dengan kebaikan dan kejahatan. Kita melihatnya dari sudut pandang bahwa kedua kutub tersebut adalah kekuatan yang saling berhubungan dan saling membangun satu sama lain. Keduanya berlawanan dalam interaksi dengan dunia yang lebih luas dan sebagai bagian dari sistem yang dinamis. Maka tidaklah heran ketika dalam perjalanan hidup saya dan sampeyan pernah terjadi pernik-pernik pertikaian dan happy ending yang didapatkan. Harapan saya, kita nantinya juga mencapai khusnul khatimah dengan melewati sekian kali ujian dan cobaan. Klop dah!


Kamis, 13 Oktober 2011

Pas itu Pas!

Sering dalam suatu peristiwa, saya membutuhkan sesuatu dan pas banget secara tak terduga sudah tersedia. Dalam keadaan sulit dikarenakan harga sapi yang anjlog membuat beberapa rencana terbengkelai, ditambah lagi saat sulit seperti itu didatangi tamu yang meminta pinjaman uang. Biasanya kalau orang meminjam uang lebih membutuhkan daripada orang tersebut sekedar meminta. Maka uang yang sedianya untuk persiapan lain-lain menjadi terancam keberadaannya. Yang lucu misalnya uang tinggal 1,7 juta kok yang pinjem pas butuh uang segitu juga.

Terjadilah peperangan batin yang dahsyat antara meminjaminya (tanpa bunga tentunya Bro!) atau memohon maaf tidak bisa membantu kesulitannya karena untuk kepentingan sendiri yang mendesak. Sekedar hitung-hitungan akal tentu pilihan kedua yang dicentrang. Tapi rasa kesulitan yang sedang dihadapi orang tersebut mengingatkan bagaimana kalau kita sedang mengalami kesulitan yang sama dan tidak ada yang mau peduli. Akhirnya perang dinyatakan usai karena kemenangan telah diraih dengan memberikan keputusan melaksanakan pilihan yang pertama.

Esoknya, saya ditelpon seorang teman untuk diajak kerjasama menangani kegiatan bisnis, dan alhamdulillah ada yang lebih dari sekedar rencana yang saya butuhkan. Allah adalah Maha Sutradara, manusia sudah merencanakan maka Allah kemudian yang memberikan keputusan. Pas ada kebutuhan, pas ada peminjam, dan pas ada solusi. Mungkin inilah Pertamina menggunakan istilah Pasti Pas!

Pernah nggak anda lupa sesuatu, dingat-ingat sampai jungkir balik belum ketemu. Eee ketika sedang santai, pasrah sama yang Maha Mengetahui sambil momong anak, mak bedunduk pas tidak dicari malah keingetan tadi yangs sedang dicari-cari. Kebalikannya ketika ada problem besar menimpa diri kita, selalu berupaya dengan segala tenaga dan pikiran melupakan sementara waktu. Dengan tiduran, dengan membaca, dengan ngobrol sama istri, sedang mainan sama anak tetep saja keingetan.

Dicoba trik jitu dengan membaca Al Qur'an kemudian sholat malam saat dini hari sembari berdoa mohon Allah Ta'ala menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Tapi upaya ini justru semakin teringat, terngiang-ngiang di otak kita. Berpikirlah kemudian, jangan-jangan Allah sengaja membiarkan hambaNya seperti ini. Sampai tertidur dan bangunnya segar badan serta pikiran. Beraktifitas seperti biasa, tidak berusaha melupakan traumatik yang terjadi kemaren, justru malah lupa sendiri dengan apa yang terjadi. 

Kalau lihat artis yang pakai lipstik satu mili, bedaknya dua mili kali ya...biar tampak cantik, tapi tetep aja kurang cantik. Dipaksa dengan operasi plastik segala malah terkena penyakit. Sedangkan Ayu Ting Ting (ceile...!) pas dicoba tampil apa adanya dan rileks malah terlihat ayu. Bahkan tetangga saya memuji istrinya,"Wah kelihatan cantik sekali hari ini dia ya..." ketika dilihat tanpa make up rekayasa. Pas banget karo impen! Tarriiikkkk tuuuuuuun! Asoy pakdhe...

Pas itu memang tidak lebih dan tidak kurang. Semua sudah tepat, sebagaimana ajaran Islam itu sudah PAS! Mulur mungkret dalam urusan duniawi, semua penanganan masalah harus dihadapi dengan suasana dingin. Kebijaksaan dalam memutuskan pilihan, tergantung siapakah yang kita hadapi. Berbicara dengan nelayan, para pemabok, petani gurem tentunya juga berbeda ketika bertemu mahasiswa, pejabat dan entrepreneur. Tidak mungkin dengan wong tani menggunakan bahasa njlimet ilmiahnya kaum akademik. Nggak PAS!

Ingetkah anda kisah pembunuh 99 orang yang bertanya kepada ahli ibadah, karena menjawab tanpa ilmu dakwah maka ahli ibadah itupun menjadi sasaran orang ke-100 yang dibunuh sang residivis. kemudian bertanya kepada ulama (orang yang berilmu), dengan ilmu hikmah akhirnya sang penjahat pun menjadi luluh dan bertaubat kepada Allah Ta'ala. kemudian anda pasti juga ingat kisah orang badui (wong desa dan nomaden) di Arab ketika kencing di dalam masjid Rasulullah. Sikap sahabat marah, bahkan Umar bin Khatthab segera ambil tindakan keras untuk mengingatkan laki-laki tersebut. Tetapi Rasulullah mengingatkan Umar dengan kasih sayang, untuk membiarkan lelaki tersebut menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu agar uyuhe nggak nyepret-nyepret. Kemudian baru dinasehati cara kencing yang benar serta adab berada di rumah Allah, dan tentunya dibersihkannya najis urine tersebut dari lantai masjid.

Jadi Islam itu bukan kaku. Namun ketegasan hukumnya sangat amat jelas dan komplit. Kamil wa mutakamil yaitu sempurna dan menyempurnakan. Cocok seperti pakaian tidak longgar dan tidak kesempitan. Bisa di pakai untuk orang yang gemuk dan orang yang langsing. Bisa dikenakan orang yang tinggi jangkung dan isa pula untuk yang minimalis. Pokoke PASTI (Pas di Hati), letaknya sesuai banget di hati manusia karena hati adalah ukuran standart kepuasan.

Sreg..sreg..sreg!

Ketika melakukan aktivitas tentunya berupaya yang terbaik. Apa sih kompas terbaik ketika melakukan sesuatu? Untuk mencapai keberhasilan suatu kondisi yang diinginkan, seseorang tidak mau mengalami kegagalan yang berulang. Tentunya keberhasilan yang didapatkan bisa diraih dengan izin Allah Ta'ala. Sehingga kompas yang tepat adalah aturan-aturanNya. Keberuntungan dunia dan akhirat yang secara berimbang didapatkan.

Sesuatu yang menurut anda baik, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Demikian pula sesuatu yang menurut anda jelek, belum tentu jelek menurut Allah untukmu. Allah memiliki rencana yang sangat indah untuk anda ketika anda berkhusnuzhan (berbaik sangka) kepadaNya. Dan karena manusia berprasangka jelek kepada Allah,menjadi sebuah doa yang akan kembali kepada dirinya sendiri. Ketika seseorang sudah berikhtiar dengan ikhlas, kemudian dia berdoa, sabar dan tawakal kepada Allah maka hasil apapun enak di hati. Sreg!

Rasa sreg itu berdasarkan asas keafdolan. Paling sesuai dengan rel yang ditentukan oleh Sang Pencipta. Jika kadang geser kanan atau geser ke kiri, agak ngebut atau sedikit perlahan berhati-hati dalam melaju adalah suatu kewajaran. Yang terpenting bagaimana agar arah tetap lurus ke depan, jangan sampai ke luar jalur rel. Disinilah setiap langkah kita menjadi sreg bagi Allah, dan otomatis sreg pula bagi kita.

Seorang entrepreneur sangat sreg ketika mendapatkan keuntungan yang melimpah. Namun lebih sreg ketika keuntungan itu diperoleh dengan cara yang halalan wa thayyiban. Seorang guru sangat sreg ketika melihat prestasi anak didiknya maju berkembang. namun sreg tersebut karena majunya bukan karena nilainya dikatrol oleh gurunya atau diajarin nyontek seperti yang diceritakan oleh beberapa siswa kepada saya. Pilot pesawat sreg dapat take off dan landing dengan selamat, biidznillah! Petani dan nelayan lebih sreg dan puas karena sukses ketika panen dengan kerja keras, bukan bermalas-malasan. Penulis juga sreg karena bukunya diminati banyak orang yang menikmati manfaatnya.

Bagaimana perasaan anda kalau didropout dari sekolah atau kampus? Mungkin terasa nggak sreg di hati karena ada kekecewaan. Namun, kita bisa melihat perjalanan Bill Gates mendirikan kerajaan IT dunia Microsoft setelah dikeluarkan dari kampusnya. Sreg bagi Allah akhirnya sreg juga bagi anda. Allah merencanakan sesuatu yang anda sendiri tidak mampu membacanya tanpa nurani.

Bagaimana perasaan anda ketika mengalami kebangkrutan usaha? Pasti nggak sreg di hati dan menyalah Tuhan tidak adil. Padahal, Thomas Alfa Edison gagal bereksperimen lebih dari seribu kali sebelum akhirnya mampu membuat bohlam lampu. Ya, lampu yang menerangi dunia ketika ada kegelapan malam. Sreg manakah anda antara terang atau gelap dunia ini?

Dan tentunya kita melihat banyak orang stres ketika sedang punya kekuasaan atau menuju kekuasaan. Mereka berebutan, sehingga banyak yang menggunakan segala cara ditempuh agar tercapai impiannya. Tidak sedikit kemudian meluapkan kekecewaan dengan saling menumpahkan darah antar pendukung. Mereka nggak merasa sreg dengan keputusan akhir. Karena mereka tidak belajar dari Abraham Lincoln yang sekian kali gagal dalam karir politiknya, bahkan nyaris gila. Dengan segala ketekunannya, akhirnya mencapai impian sebagai Presiden legendaris United States of America, sebuah negara adidaya di dunia sekarang ini.

Masih kurang sreg, dengan hidup anda sekarang ini?
Jawabnya tentu seperti sebuah iklan dulu yang pernah saya lihat di televisi : Sreg...sreg...sreg!



Rabu, 12 Oktober 2011

Jangan Dol!

Ini bukan main tembak-tembakan seperti anak kecil yang di Papua kemaren. Karena anak-anak yang main berbunyi: Dol...Dol...Dol! (Aslinya Dooorr!!!). Dol yang saya maksudkan juga bukan Departemen of  Labor miliknya USA, namun dol yang memiliki makna sesuatu (bukan karena trend Syahrini!) yang tidak berfungsi karena longgar atau tidak erat lagi alias galir. Biasanya, erat hubungannya dengan ulir, skrup, baut dan sebagainya. Karena ada kemiripan dengan 'los' maka akan sedikit saya bahas, yang sebenarnya cukup berbeda.

Sesuatu yang sudah longgar sehingga tidak berfungsi, memang berbeda dengan plong dan los. Akibat terlalu longgar alias tidak pas justru membuat tidak plong rasanya. Misalnya, aturan dari norma-norma yang disepakati ditabrak kemudian penegakan hukumnya terlalu longgar atau sudah dol dikarenakan adanya mafia, mengakibatkan adanya ketidakadilan di masyarakat. Hukum tebang pilih, menunjukkan kesewenang-wenangan. Dan wong cilik selalu menjadi sasaran. Hukum sudah dol dan vonis hakim dijadikan dodolan.

Sesuatu yang sudah dol biasanya dibuang karena rusak. Banyak juga lembaga di Indonesia yang sudah dol dan selayaknya untuk diafkir dan dirongsok. Masih lumayan, selawuhan! Karena untuk memperbaikinya membutuhkan biaya yang lebih besar dari pada beli baru atau buat yang baru. Sekrup yang dol contohnya, kumpulin saja kalo ada satu ton bawa ke rongsok dan hasilnya sumbangkan ke anak yatim piatu. InsyaAllah lebih manfaat. Atau kalau kreatif buatlah hand made, sehingga menjadi oleh-oleh khas daerah anda.

Ada lagi yang dol sebagai ungkapan bagi pasangan yang sudah uzur. Sehari entah karena apa bisa kentut ratusan kali, maka dikatakan duburnya sudah dol. Disini diartikan bahwa dol adalah longgar, makanya dah berkurang fungsinya. Apalagi bagi ibu-ibu lansia, menjadi trauma tersendiri jika sudah longgar alias dol. Tubuhnya longgar dan melar, bagian sensitifnya (maap!) dah longgar membuat kalang kabut cari jamu sari rapet bahkan sampai operasi perawan seperti Dewi Perssik. Khawatir enggak bisa memuaskan pasangannya. Kulit keriput juga menjadi masalah bagi mereka. Jika pernikahan diniati karena bukan selain Allah, begitulah akhirnya. Dol syndrome! Huahaha......

Jika pemaknaan dol sama dengan renggang, ini juga sesuatu yang jangan sampai terjadi. Seperti mur dan baut tentunya bisa klop. Demikian pula suami istri juga jangan sampai renggang karena permasalahan yang sepele. Komunikasi menjadi salah satu kunci. Ingat, karena kesalahpahaman yang dilakukan Nabi Ayyub terhadap istrinya yang ikhlas setia menemani tatkala terkena penyakit yang tak kunjung sembuh. Justru Ayyub alaihi salam bersumpah akan memukul istrinya 100 kali jika sudah sembuh. Antara pemimpin dengan rakyatnya. Antara ulama dengan umatnya. Antara guru dengan muridnya. Antara penjual dengan konsumennya. Dan antara Tuhan dengan hambaNya. Antara manusia dengan manusia lainnya. Antara manusia dengan makhluk dan alam sekitarnya. Semua haruslah trep, bukan sebaliknya malah menjadi dol. 

Seperti Indonesia, haruslah dari Pulau We sampai Papua. Dari Rote sampai Talaud dan Sangihe saling berpadu disambungkan oleh perairan lautan. Cara pandang yang kurang tepat jika dikatakan lautan justru sebagai penghambat atau pemisah. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

Katakan: Los!

Ketika saya masih tinggal di Cilacap, belajar tentang karakteristik masyarakat Banyumas Raya yang terkenal blaka suta. Mereka suka berterus terang, daripada suatu beban penderitaan itu dipendam dalam hati. Memang sangat diperlukan keterusterangan dalam komunikasi, walaupun bagi masyarakat Jawa pada umumnya ada yang keterusterangan itu diejawantahkan dalam bentuk sasmita atau perlambang sehingga bagi yang belum cerdas tidak bisa memahami maksudnya. Bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya, mereka lebih suka yang tanpa perlambang, semua keluar dengan sendirinya thok thel atau kalo di Rembang langsung thok leh permasalahan.

Bagi masyarakat Jawa khususnya Komunitas Sedulur Sikep yang mengikuti tradisi gerakan Samin Surosentiko (ada yang menyebutnya Samin Surontiko) alias ajaran Raden Qohar bin Raden Soerowidjaja, juga menyampaikan sesuatu tanpa aling-aling. Mereka berjuang melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pada zaman kolonial atau penjajahan tidak melalui kekerasan. Radikalisme bagi mereka sudah nggak usum. Karena secara logika tindakan tersebut mudah dipatahkan Belanda dan penjajah lainnya karena kalah persenjataan. Mereka lebih suka menggunakan strategi Logika Pemaknaan Linguistic daripada jalur kekerasan untuk membebaskan diri dari kezhaliman.

Masyarakat Rembang misalnya juga belajar mereduksi alam sekitarnya seperti pantai, pegunungan kapur, hutan jati, tegalan nan gersang, dan yang lainnya menjadi bahasa atau budaya masyarakat yang berbasis kearifan lokal. Mereka menjadikan lingkungan bukan saja sebagai lahan bermata pencaharian seperti pantai rawa dan laut untuk kenelayanan (kekuatan ekologi bahari) serta pegunungan untuk kekuatan ekologi pertanian, namun juga sebuah kekuatan kebudayaan yang menyatu dengan alam sekitarnya. Mereka merasa lebih tentram dalam kondisi seperti itu, daripada mengeksploitasi alamnya secara berlebihan, misalnya untuk penambangan yang merusak ekologi yang ada dalam jangka panjang. Ketika mampu memenuhi janjinya untuk mengembalikan pinjaman anak cucu, hati terasa Plong! Dan ketika malaikatul maut menjemput, ruh keluar dari kaki ke kepala halus sekali karena ikhlas meninggalkan yang baik. Los!

Ungkapan," Los ngana!" bagi masyarakat Cilacap yang setiap harinya bergelut dengan dunia kemaritiman yang cukup keras sering terdengar di telinga saya. Hal tersebut bermaksud menolerir seseorang, atau menyetujui tindakan seseorang. Melepas kepergian putra putrinya merantau, ungkapan 'los' menunjukkan melepaskan dengan rasa ridho. Sebagaimana kalau kita sedang naik sepeda, mereka merasakan serrr ketika sepedanya 'los' alias lepas rantai, cuma yang ini bikin jengkel. Perasaan mengeloskan sama dengan melepaskan, memerdekakan, membiarkan dan membebaskan.

Demikian juga perlawanan di Karesidenan Rembang waktu itu dengan gerakan sosial sebagaimana Mahatma Gandhi di India yang tanpa kekerasan diantaranya tidak mau membayar pajak dan kerja rodi. Ketika ditangkap dan dibawa ke pengadilan, mereka berargumentasi bahwa tidak ada perlunya membayar pajak. Ketika ditanyakan apakah mereka gila atau pura-pura gila? Dijawabnya," Saya tidak gila dan saya tidak pura-pura gila." Pengadilan dan pejabat menjelaskan pentingnya membayar pajak untuk membangun infrastruktur seperti jalan dan irigasi. Mereka menjawab,"Pemerintah (baca: Penjajah) hanya mintanya uang saja, kalau masalah jalan rusak kami pun bisa memperbaiki sendiri dengan uang kami." Coba bagaimana kritisnya mereka, menggunakan logika kemandirian atau keswadayaan, kejujuran dan nilai-nilai otonomi bagi wilayahnya.

Kadang dianggap gila karena ketika dipaksa menyerahkan uangnya, mereka sengaja mencangkul tanah dan memasukkan uangnya ke dalam tanah dengan alasan daripada uangnya diserahkan pemerintah lebih baik diserahkan bumi yang selama ini telah tumbuh berbagai macam tanaman yang mereka konsumsi. Dasar wong moyek! Namun itulah mereka, sewa tanah untuk bumi yang hanya milik Penguasa Alam Allahu Ta'ala bukan menyewa tanah miliknya penjajah. Los!

Model perjuangan yang santun, dengan bahasa yang lugas kadang juga sulit diterima masyarakat umum. Contohnya ketika seseorang bertamu, maka tidak diucapkan,"Mangga, pinarak..." (Mari, silakan duduk...). Alasannya, hal itu mengurangi kebebasan sang tamu, mestinya tamu disambut cukup dengan senyuman dan kabar keselamatan. Selanjutnya hak tamu melakukan apa yang diinginkan, misalnya mau berdiri, atau duduk, atau nungging bahkan mau ke belakang atau tetap di luar saja. Pokoknya membebaskan, mengeloskan tanpa ada tekanan dan aturan yang berbelit-belit. Sebuah revolusi pembebasan, dahsyat!

Ketika diberikan bantuan dari orang lain, biasanya mereka tidak mengucapkan terimakasih. Wah ini gak sopan! Janganlah kita menghakimi terleih dahulu sebelum bertanya,"Mengapa anda tak berterimakasih?" Mereka pun menjawab dengan hormat,"Bukankah pemilik sesuatu itu Allah, sehingga cukup hamdalah yang kita ucapkan, kalau kepada makhluk walaupun sebagai washilah (perantara.red) tentunya pemberian itu disertai dengan keikhlasan yang tak lagi memerlukan ucapan terimakasih. Wong saya juga nggak minta, karena tidak ada dalam kamus besar gerakan kami menjadi pengemis!" Coba Bro: renungkanlah.... Pemaknaan keikhlasan dan ketulusan serta rasa syukur yang teramat dalam.

Ketika ditanyakan tentang usia, mereka menjawab bahwa usianya satu. Usia adalah hidup, sedang hidup itu dengan nyawa. Selama Allah Ta'ala memberikan kesempatan beramal di dunia, maka nyawa hanya diberikan satu saja. Tidak ada ukuran tertentu, batasan tertentu, aturan tertentu tentang usia. Pasrah ing agesang. Hidup dengan menyelaraskan alam yang ada, mengikuti aturan Tuhannya Adam Alaihi Salam. Sehingga hidup ini pun terasa LOS! Ketika Tuhan memintanya kembali, maka Katakan: LOS!

Plong Vs Blong

Saya membedakan diantara dua kata tersebut. Plong lebih cenderung diartikan berasa lega, berasa terbebas dari beban pikiran, beban jiwa dan berbagai permasalahan. Sehingga dengan munculnya rasa plong itu membuat seseorang bebas berekspresi, berinovasi dan melakukan kreativitas. Yang dirasakan adalah kemerdekaan. Walaupun tentunya dalam seuah kehidupan ada aturan-aturan yang disepakati tentunya tidak menghambat rasa plong tersebut. Justru ketika dia melakukan kesalahan dan kekhilafan dengan melanggar aturan yang ada, jiwanya yang bersih pasti menolak. Dan, rasanya mbesesek di dada menahan rasa bersalah. 

Aturan diperlukan agar seseorang dapat mengukur aktifitasnya, apakah layak dilakukan atau tidak. ketika dia mampu menganalisa bahwa tindakannya masih dalam batasan koridor kesepakatan tentunya melakukan aktivitas itu dengan enjoy dan rasanya Plong itu tadi. Berbeda dengan di surga yang Allah Tuhan Yang Maha ijaksana tentunya memberikan kebebasan tanpa ada tekanan dan larangan lagi. Anda akan terpuaskan disana...pastinya Plong Forever.

Berbeda dengan Blong yang sering disandingkan dengan kata rem. Jadinya rem blong!. Semoga kejadian rem blong yang mengakibatkan musibah jangan terjadi pada kita. Rem blong yang ini beda dengan Remblong yang singkatan Rembang Oblong. Sebuah model kaos khas Rembang yang mestinya didukung oleh masyarakat Rembang khususnya, sehingga bisa setaraf dengan Dadung, Dagadu, dan Joger misalnya. Belum ke rembang kalau belum beli oleh-oleh kaos Remblong. Kembali ke masalah Blong pada rem, memiliki makna tidak berfungsinya rem karena tidak ada tahanan.

Blong, memang mirip dengan Plong. Saudara kembar siam kali...namun sebenarnya kemiripan itu hanya di tiga huruf belakang sehingga dalam pengucapan pun juga mirip. Yang berbeda adalah dirasa. Sama-sama pure empuness, kekosongan murni tetapi plong sensasinya positif begitu lapang. Sedangkan Blong sensasinya negatif, tanpa penghalang namun dheg-dheg pyar, sleser-sleser karena tahu akibat atau dampak negatif jika tidak dapat mengendalikan. Jika diketahui bahwa sesuatu itu Blong, pasti yang terjadi kekhawatiran akan hasil yang akan diperoleh karena sulitnya menangani kasus ini. Yang paling sering adalah menjadi penyebab terjadinya musibah kecelakaan. Korbannya bisa diri sendiri dan orang lain.

Jika manusia memiliki nafsu yang tanpa rem, ataupun jika punya rem namun dalam kondisi blong karena tidak pernah dirawat, maka sebuah musibah pasti terjadi. Nafsu seseorang yang mengumbar hawa nafsu seksualnya yang blong sebagai contoh, akan menimbulkan dampak negatif diantara kedua lawan jenis itu. Bahkan juga kedua keluarga besar mereka, dan sangat sering tidak mereka sadari jika melakukan itu dampaknya yang terbesar juga dialami oleh keturunannya. Dan hal tersebut seringnya berlanjut, berlanjut terus ketika tidak ada upaya untuk memperbaiki diri dan tentunya didahului taubatan nasuha.

Untuk itulah, mari kita untuk mewujudkan rasa Plong di pikiran dan hati janganlah sampai lupa memelihara hati, memperjernih pikiran dengan ilmu dan meneranginya dengan cahaya pengetahuan, serta mengendalikan hawa nafsu agar tidak Blong. Keduanya mirip namun berbeda! Plong atau Blong!

Selasa, 11 Oktober 2011

Biar Plong!

Kemarau panjang, cuaca begitu terik. Debu bertebaran memudahkan beberapa anak yang saya temui terkena penyumbatan hidung. Mereka terlihat sulit bernafas, sehingga aktifitasnya terganggu tidak selincah seperti biasanya. Demikian pula anak saya Huud Abdallah Ahnafuddin yang baru berusia 2 tahun dan sedang seneng-senengnya belajar sambil bermain di play group PAUD. Dia berusaha tidak merasakan apa yang dialami, dengan bermain puzzel, menempel, dan bongkar pasang balok.

Cara tradisional yang saya terapkan untuk mengatasi tersumbatnya hidung Ahnaf, diantaranya dengan cara mandi pagi di laut. Anak-anak setiap pekan berusaha rutin 'papung segara', begitu mereka menyebutnya. Alhamdulillah, upaya ini membuat pilek dan batuknya sembuh. Sedangkan kalau tersumbatnya itu kondisi disiang hari, maka penanganannya dengan cara :
  1. Mengoleskan minyak kayu putih yang dicampur jeruk nipis ke punggung dan dada sambil dipijit pelan-pelan.
  2. Menjemurnya dengan cara bermain diluar sehingga terkena sinar matahari pagi selama lebih kurang 20 menit.
  3. Mencampur air panas yang sudah ditetesi minyak kayu putih, kemudian uap airnya dihirupkan ke anak sehingga cepat mengeluarkan cairan di hidung.
  4. Memandikannya dengan air hangat.
  5. Menjaga agar posisi kepala berada leih tinggi dibanding posisi badan saat tidur.
  6. Menaruh ember berisi air panas yang sudah ditetesi minyak kayu putih, di semua sudut kamar. Kemudian pintu kamar ditutup (jika ber-AC dimatikan) agar suasana lembab.
  7. Mengoleskan minyak telon yang dicampur bumbu rempah pala di atas hidung anak antara dua alisnya, saat anak sudah tertidur.
  8. Memijat anak secara pelan-pelan di atas dada (yang cekung antara dua tulang).
  9. Membacakan doa agar cepat sembuh.
Hidung yang dirasakan tersumbat dan sangat mengganggu itu, akhirnya berujung pada kelegaan. Bangun tidur, anak merasakan bebas. Hidungnya yang berlendir dan membuatnya sulit bernafas itu menjadi Plong! Gimana...gimana...gimana? Rasanya Ya Mak Plong!

Demikian pula, dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti kasus anak saya tadi terjadi juga di tempat saya dulu pernah tinggal lama. Malam ini saya ditelpon teman, suasana kota tersebut semakin panas karena juga menjelang pilkada. Banyak yang suka main bongkar, bahkan dengan cara-cara arogan. Premanisme, anarkis dan yang penting 'pokoke!' selalu menjadi metode. Gruduk sana gruduk sini, rakyat bodoh semakin bodoh karena dibodohi oleh orang bodoh sehingga pembodohan ini berujung kepada masa bodoh. Pintarnya hanya bongkar, namun ketika sudah memegang nggak bisa pasangnya. Kalah sama anak-anak PAUD bagian play group!

Sumbatan kemajuan masyarakat seperti ini, mestinya juga diselesaikan dengan beberapa cara seperti di atas. Perlu mereka rutin mandi air laut karena laut adalah kesaaran, 'dawa ususe' agar tidak mudah marah. Orang kalo jarang mandi ya seperti itu, sumbu pendek mudah mencaci tapi tak punya solusi alias bisane cuma ngrusuhi. Bahasa Orde Baru, merekalah yang dimaksud musuh pembangunan atau bisa di cap PKI oleh intel waktu itu. Makanya sebagai bahan berkontemplasi, marilah kita rutin mandi. Siapa yang jarang mandi, hayooo... Bersihkanlah kotoran yang ada ditubuh dan jiwa kita, sehingga sumbatan-sumbatan itu terelimininasi dari tubuh dan jiwa kita pula.

Selain itu, juga harus rutin dijemur karena matahari adalah perlambang kehidupan. Mereka yang mudah gelap mata, coba saja sering berjemur matahari kehidupan. Jiwa akan menjadi tenang, karena manusia juga seperti matahari yang ada kalanya terbit dan pasti juga mengalami terbenam. Kalau hal tersebut dapat direnungkan sehingga sadar bahwa manusia akan kembali kepada Allah Ta'ala dengan membawa bekal baju ketaqwaan dan amal-amal yang bermanfaat maka rasanya pasti : Plong!

Demikian pula untuk menjaga diri sebagai langkah ikhtiar untuk mengantisipasi datangnya ketersumbatan tersebut, lakukanlah dialog. Musyawarah menyelesaiakan urusan dunia, dan Allah ta'ala tidak akan ikut campur karena Dia telah berfirman kepada ummat manusia melalui rasulNya agar manusia menyelesaikan urusan dunianya sendiri dengan cara dialogis. Bukan dengan petentang-petenteng, adigang-adigung-adiguna dan sok aji mumpung. Dialog itu diantaranya dengan mengolesi rasa tenggangrasa, bersabar, pikiran jernih dan hati yang ikhlas agar menjadi hangat seperti minyak kayu putih ataupun telon. Jangan lupa saling memijat, yaitu menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Tempatkan posisi kepala lebih tinggi daripada badan dengan maksud agar menggunakan logika yang sehat daripada nafsu angkara yang didorong oleh bujukan syetan sebagai musuh nyata bagi ummat manusia sepanjang sejarah hidupnya dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Jikalau semua usaha itu dilakukan secara berkelanjutan maka diakhiri dengan doa yang tulus kepada Allah Ta'ala untuk kemajuan negeri tercinta, insyaAllah sumbatan di hidung itu akan hilang, sekali lagi terasa Plong!
Gimana sekarang? Plong...Plong...Plong!



Lagi lagi Plong!

Maaf, janganlah anda bosan. Memang saya akan mencoba mengupas Plong secara Plong! Tentunya, film drama komedi yang disutradarai oleh Putu Wiijaya dan dirilis tahu 1991 ini salah satunya. Film dengan bintang utama berkualitas seperti Cok Simbara, Tarida Gloria dan Deddy Mizwar ini mewakili tentang pentingnya kebutuhan manusia yaitu rasa Plong!

Plong (Naik Daun) mengisahkan tentang Darma (Deddy Mizwar), pemilik sejumlah perusahaan, yang tiba-tiba mengangkat perawat kudanya, Ucha (Cok Simbara) menjadi direktur di salah satu perusahaannya yang selama ini dikendalikan oleh kawan-kawannya dari zaman revolusi. Ucha mencoba membenahi keadaan perusahaan itu namun ia selalu dirongrong kawan-kawan Darma. Di rumah pun ia dirongrong oleh istrinya yang "gembrot" dan tiba-tiba berubah watak karena sadar menjadi istri direktur. Penampilan dirinya maupun rumahnya dianggapnya harus mengikuti kenaikan derajat sosialnya. Pada puncak konflik dengan semuanya itu, Ucha menghadap Darma dan menyatakan mengundurkan diri, sambil menyatakan bahwa sahabat-sahabat Darma sendiri sebenarnya yang merongrong usahanya. Darma tahu sebenarnya, tapi ia tak sanggup memecat mereka.

Penghargaan



  • Citra, FFI 1992, untuk Fotografi.
  • Unggulan, FFI 1992, untuk Film, Sutradara, Pemeran Utama Pria (Cok Simbara), Skenario, Artistik, Editing, Suara.

    Film yang berkualitas, mengedepankan hikmah akan mempunyai impact positif entah sedikit atau banyak kepada pemirsanya. Rasa plong sensasional menuju kepada garis takdir, walaupun perubahan takdir adalah termasuk takdir juga, benar-benar pure empeness.
    Coba tarik nafas, dzikirkan kalam Illahi dan basahkan bibir anda dengan kalimah-kalimah tayyibah dalam pergaulan di masyarakat...sensasi Plong!
  • Plong lagi...


    "Didi Kempot – Plong"
    Plong rasaning njero dadaku
    Rasane mak plong lego atiku
    Wis ora dag-dig-dug jantungku
    Saiki wis mari kangenku
    Plong rasaning njero dadaku
    Rasane mak plong lego atiku
    Wis ora nyut-nyut sirahku
    Saiki wis mari kangenku
    Rasane kepiye, plong plong plong
    Rasane kepiye, yo mak plong

    reff :

    Rasane koyo ketiban ndaru
    Lintang kamulyan nibani dadaku
    Sing lali wis eling karo aku
    Gelem mulih gelem bali karo aku
    Njanur gunung rasane nggumun setahun
    Ora rugi rino wengi nggonku nyuwun
    Matur nuwun pancen kuwi sing tak suwun
    Rasane yo mak plong
    Rasane plong plong plong

    reff :

    kembali ke atas…plong rasaning…
    Rasane piye, yo mak plong

    http://meliriklagu.com/d/didi-kempot/lirik-lagu-didi-kempot-plong-lyrics.html


    Manusia akan merasakan dampak yang luar biasa ketika kerinduan akan pertemuannya dengan Sang Pencipta dan Utusannya. Rasa rindu itu terasa PLONG! Sebagaimana Wisanggeni yang merindukan pertemuannya dengan Sang Hyang Wenang. Selayaknya Kala Bendana yang rindu dengan Arimbiatmaja ya Gathotkaca. Seperti Begawan Bagaspati yang rindu dengan Narasoma ya Salyapati.

    Manusia dikatakan beriman ketika sedang membaca surat cinyaNya terasa PLONG! di dada, ada desiran ketenangan yang amat dahsyat dan sulit dilukiskan walau secara abstrac pun. Manusia dikatakan beriman ketika sedang sujud bersungkur di hadapan Sang Khaliq tersa PLONG! di dada, ada secercah cahaya yang menerangi qolbun salimnya. Manusia dikatakan beriman ketika disebutkan asmaNya segera beristighfar, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bertahlil. Semua itu rasanya PLONG! PLONG! PLONG! Gimana rasanya : Yo Mak PLONG!

    Rembang, 11 Oktober 2011

    Senin, 10 Oktober 2011

    Plong !

    Awal mula membuat blog ini, terinspirasi tentang kegalauan yang melanda negeri tercinta. Kegalauan rakyatnya dan pemimpinnya. Kegalauan ulama' dan umatnya. Kegalauan saya sendiri. Saya merindukan rasa plong, dan sore sebelum sholat Maghrib, ada sesuatu yang membuatku berkata : Plong! setelah menyelesaikan buang hajat, ya alhamdulillah.....

    Saya yakin anda akan terasa lain ketika sedang ada problematika yang cukup ruwet kemudian menemukan solusi yang tepat, begitulah rasanya : Plong! Anda dapat meluapkan rasa itu dengan tertawa, menangis atau cukup dengan tersenyum, namun muaranya tetap  : Plong! Sehingga saya kemudian memberikan judul blog saya dengan nama : Plong !

    Rumah saya berada di pinggir Jalan Raya Pos Anyer Panarukan alias jalan yang dibuat nenek kakek kita zaman Daendels, tepatnya Jalan Untung Suropati (sekarang menjadi Jalan Gajag Mada) No.69 Rembang. Hampir setiap menit ada kendaraan melintas, sehingga pada suatu ketika ada serombongan keluarga dalam satu kendaraan berhenti di depan rumah saya karena mobilnya mogok. Almarhumah ibu saya, kemudian mempersilakan mereka mampir dan beristirahat. Apalagi waktu itu malam hari, tentunya sambil menunggu mobil diperbaiki mereka butuh tempat sekedar untuk leyeh-leyeh. Walaupun rumah kami sederhana, ibu tidak segan dengan keramahannya yang tidak dibuat-buat menjamu makan malam. Dan itu adalah menanak beras terakhir yang dimilikinya.

    Sudah dari dulu ibu setiap punya sesuatu makanan, baik itu sayur dan makanan lain atau bahkan oblok-oblok (sayur sisa kenduri yang diangetin) jika berlebih diberikan kepada para tetangga khususnya yang lebih kurang dari kami. Buah mangga atau semacamnya juga dibagikan kepada tetangga kanan kiri tanpa memandang status sosial, bahkan mayoritas mereka lebih mapan. Padahal mereka para tetangga tahu, ibu adalah janda beranak banyak yang hidup di rumah sederhana.  Memasak nasi bahkan dibuat hampir seperti bubur, agar semua anak dapat merata. Memasaknya pun menggunakan kayu bakar.

    Melihat kondisi sekarang yang didominasi kaidah dan moral ekonomi, sikap ibu saya mungkin dirasakan terlalu naif. Selagi semua orang berkata kalau jasa dibalas dengan balas jasa, prestasi dibalas dengan kontraprestasi, dan sedikit kerugian harus dibalas dengan kompensasi, lalu apakah makna tindakan ibu saya. Apabila sebagian besar orang memanjakan diri dengan mencukupi keinginannya, mengapa masih ada orang miskin merelakan beras terakhir demi para musafir yang tak dikenal dari golongan bermobil? Dia hanya membuat orang lain yang memiliki mobil kenyang, sedang dirinya dan anak-anaknya yang miskin malah lapar. Ironis.

    Pengorbanan adalah salah satu tema dasar ajaran-ajaran kenabian. Anda mesti ingat, ketika Adam diciptakan dan diturunkan ke bumi bersama Hawa. Kedua anaknya telah Allah ta'ala perintahkan untuk berkorban, dan yang diambil atau diterimaNya adalah qurban yang paling ikhlas. Umat Buddha percaya, bahwa Siddarta Gautama adalah seorang penderma sejati. Sang gautama mengorbankan kehidupan mewah di istana untuk menjadi guru yang hidup sangat bersahaja demi melepaskan umat dari samsara. Umat Kristen percaya, Yesus mengorbankan seluruh hidupnya untuk kebahagian dan keselamatan manusia.

    Demikian pula yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya Ismail, umat Islam menunaikan ibadah haji dan berqurban di Hari Raya Idhul Adha. Ibadah tersebut adalah ritus yang menyimbolkan jiwa pengorbanan. Dengan kata lain, pengorbanan atau kedermawanan adalah rukun yang harus dipenuhi oleh yang mengaku Muslim. Jelasnya, tak layak seseorang mengaku Muslim apabila dia belum mampu mengembangkan dirinya sebagai seorang dermawan. Allah Ta'ala juga memerintahkan untuk berlaku dermawan dalam keadaan lapang dan sempit, dan Rasulullah Muhammad sholallahu 'alaihi wassalam juga mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari....

    Alangkah banyak orang memiliki banyak beras, cukup beradab dan mereka cukup informasi tentang ajaran perilaku-perilaku kenabian, tak sanggup berbagi. Mereka masih belum memiliki kekayaan jiwa. Dan mungkin ada pertanyaan," Apakah yang diperoleh ibu saya dari kedermawanannya? " Dia tetap atau bahkan lebih miskin, bukan? Dari pandangan biasa mungkin, ya. Namun ada gejala yang membuktikan akan ketidak sia-siaan kedermawanannya. Terbukti, beliau masih bisa tersenyum, mata beliau selalu bercahaya dan hidup tenang tentram bergembira. Bahkan diakhir hayatnya, beliau sempat mendaftar menjadi jamaah haji Indonesia. Dimakamkan dengan iringan jamah pengajian yang dibimbingnya selama ini, dengan biaya pemakaman sendiri tanpa hutang pada siapapun. Dan kami putra-putrinya masih merasakan rasa kasih beliau sampai kini.

    Garis-garis kegembiraan saat pulang kerahmatullah setelah sakit dua setengah bulan, seolah-olah bisa dibaca sebagai rasa optimisme hidup, sebagaimana telah dijanjikan Tuhan bagi mereka yang tulus dan berserah diri. Dan aneh, banyak orang yang sedang menanggung stress karena takut kehilangan apa-apa yang dimilikinya di dunia. Sebuah pepatah Tiongkok mengatakan," Siapa yang memiliki berati kehilangan." Kalau kita semua sepakat, bahwa ketika gemar memberi maka rasanya : Plong !

    Rembang, 10 Oktober 2011